Kidung pamungkas
Ketika kata-kata Sudah tidak bisa menjawab tanya Maka bahasa pedanglah yang bicara Bahasa para ksatria Bahwa bumi menuntut sesaji darah manusia Pedang Taring betara kala sedang di amuk murka Amarahnya menelan rembulan jadi gerhana Bumi Gelap pekat menangis air mata merah Gemerlap kilat pedang menusuk dunia Darah mengalir dari ujung pedang kekuasaanTergelar dari ujung pedang Sebagaimana derita juga tergelar dari ujung yang sama syair - syair berdarah berjalan mengikuti hembusan angin menapak di sunyinya alur kehidupan bait demi bait terfatwa mematikan menusuk dalam jantung kehidupan merampas hatimu dengan serakahku mainkan nada-nada asmara untuk mengoyak suci menjadi laraku renggut paksa indahnya anganmu wahai ...wanita terlentanglah pasrah sambut birahiku seribu kutukku desah pelan syair-syair berdarah merona merah merenda kata semilir api menyentuh menyungkup membanjiri tubuhmu beriak membara mengelora panas dalam gejolakaku pendekar syair berdarah setiap desah adalah pujangga hembusan angin adalah iramaku menyebar mutiara sang kata cinta syair berdarah melumat hawa Pendekar syair berdarahku berjalan terseok tanpa arah melantunkan indah nada nada prahara merenggut paksa insan bercinta kutebas murka pedang berdarah memutus kasih luka kecewa syair berdarah menyebar angkara aku tak percaya dengan cinta sudah kucari ke pelosok dunia tapi cinta tak punya rasa bergumul nafsu gairah tatkala cinta dua manusia menyatu peluh raungan manja Aku kau usir pergi saat masih ingin menyusuri padang hatimu Kini biarkanlah jalanku berlinang darah rembulan memapahku perlahan menuju maut abadi... "Aku datang dari balik kabut hitam Aku mengarungi samudera darah Akulah pangeran kegelapan kan kuremas matahari di telapak tanganku kan kupecahkan wajah rembulan, pecah terbelah dengan KIDUNG PAMUNGKAS kan kubuat dunia berwarna merah...!""Kematian adalah kidung indah dalam hidupku kematian tercium dari ujung ujung pedangku kubeberkan dosa pada setiap tetes darahku sembari kusiramkan api neraka kesekujur tubuhmu...""Akan kulumuri wajahmu dengan darah manusia yang paling terkutuk kematian didalam nafasku kematian di ujung ujung pedangku kata membuat mantra mantra menyusun daya daya mantraku mengunci semua daya daya mantraku menyerang pikiran manusia kiduuuung pamungkaaaaas...!""Kepalsuan selalu menipu bumi yang lembut dan jujur topeng topeng putih yang semuci suci selalu laris terjual di pasar pasar di warung warung karna terlalu banyak manusia busuk ingin menutupi kebusukannya aku datang dari balik kabut merahterbang melintasi samudra darah akan ku pecah wajah rembulan malam akan kubuat isi alam menjadi kelam akulah pangeran kegelapan
Komentar
Posting Komentar